To Spring is Choice.

(dari milis SAG-ID)

Apakabar kawan2 SAG,

Terus terang saya terlambat baca buku yang satu ini. Laskar Pelangi judulnya, karya Andrea Hirata. Bukan fiksi, ini kisah nyata 10 anak nelayan miskin di pedalaman Pulau Belitong (Belitung?cmiiw) yang selalu bersama sejak kelas 1 SD hingga 3 SMP (dan memang hanya 10 murid itu saja murid sekolah itu!). Sebuah pulau kaya dengan penghuninya yang sebagian besar menderita miskin. Tetapi kisah 10 anak miskin ini bisa menginspirasi seorang pecandu narkoba di Bandung yang sudah putus sekolah & memutuskan untuk berhenti dari ketergantungan obat lalu melanjutkan pendidikannya.

Saya nggak bakalan cerita isi buku ini. Terlalu merendahkan bobot buku ini kalau saya nekad buat sinopsisnya. Bakal menyunat banyak makna berharga dalam tulisan Hirata, nantinya. Anda beli sendiri, baca & rasakan sensasinya. Waktu saya baca buku ini, wuih, pikiran saya seperti dibanting ke titik nol. Semua asumsi, pengetahuan, logika yang diyakini selama ini seakan-akan tidak punya makna.

Coba saja anda bayangkan, (sedikit cuplikan) seorang anak dibuku itu dikisahkan harus menempuh perjalanan ke sekolahnya yang sebentar lagi rubuh sejauh 40 km. Itu baru pergi-nya, belum termasuk pulang-nya. Jadi kalo ditotal dia harus menempuh 80 km. Dan itu dia lakukan setiap hari. Yang gilanya, anak ini tercatat tidak pernah membolos. Kadang-kadang, dia harus bertatap muka dengan buaya di tengah perjalanannya karena memang ekosistem disana mayoritas wetland alias rawa, sehingga itu menyebabkan ia terlambat. Gilanya, buaya tidak membuat dia memutar balik sepedanya lalu pulang ke rumah orangtuanya. Pulau Belitong yang diapit Laut Jawa, Selat Karimata, Selat Gaspar & Selat Malaka membuat pulau ini bulan-bulanan hujan. Sekali hujan nggak sebentar. Lebat & lama itu sudah pasti. Jadi bayangkan, menempuh perjalanan sejauh itu, ketemu buaya, lalu berhujan-hujan dengan mengendarai sepeda reot bapaknya. Ini bukan sepeda paratroopers yang full suspension itu. Cuma sepeda butut.

10 anak miskin ini kalau mau berlibur pun mereka pergi ke satu pantai berjarak 60 km yang ditempuh dengan sepeda. Dan mereka bergembira sekali dengan itu. Permainan-permainan tradisional, seperti mud skating dengan daun lontar, buat mereka itu game yang sangat menarik & mendobrak adrenalin. Cukuplah itu. Buat mereka itu jauh dari berarti. Dan masih banyak kisah-kisah fenomenal mereka.

Akhir ceritanya nanti kita baca bersama ya?

Dan kalau saya renungkan, komunitas kita ini juga nyerempet-nyerempet  dengan yang diceritakan buku tadi. Saya nggak tahu berapa banyak anggota SAG yang bisa menyelami betul kenapa SAG didirikan. Saya sendiri butuh hampir 1,5 tahun untuk memahami SAG & itupun kadang-kadang masih nggak percaya. Pertanyaan2 seperti “Kenapa harus spring ditengah maraknya AEG? Apa enaknya pake spring? Kapasitas mag-nya kan terbatas? Hah, harus dikokang terus setiap mau nembak?!” sering saya lontarkan dalam batin, plus kawan2 saya lain yang gemar & kerap menggunakan AEG. Tapi saya bersyukur Allah SWT mempertemukan saya dengan SAG. Lewat milis ini saya belajar banyak. Terima kasih sedalam2nya saya haturkan untuk kawan2 SAG, seberapapun gemblungnya anda…:P

Tapi sekarang sudah ketemu JAWABANNYA!! (nggak tau, jawaban kawan2 yang lain sama ato nggak…)

Jawabannya, maknai KETERBATASAN sedemikian rupa, maka kamu akan menerima KETAKTERBATASAN! !

(mungkin kalo dialihbahasakan : respect the limit and you’ll get the unlimited)

10 anak miskin Laskar Pelangi melihat kemiskinan mereka bukan sebagai batu sandungan buat mereka. Mereka bisa tetap gembira, dan yang paling penting…BERSYUKUR. Syukurilah yang anda punya.

Spring itu bukan berarti pemain yang lebih dulu back to base. Spring gunner itu belum tentu mewakili status pergaulan, ekonomi dan embel-embel omong kosong lainnya. Buat saya (sekarang) dibalik spring itu sarat pelajaran. Ikhlaskah saya bermain dengan segala keterbatasan yang dimiliki spring? Anda yang addict dengan AEG apakah ikhlas kalo tiba-tiba AEG anda mogok ditengah jalan & disodori M47 sebagai penggantinya? Jawabannya baru bisa kita rasakan di lapangan…

Sebagai penutup, saya punya kawan yang unik. Beberapa kali mau skirmish, batre M4A1nya selalu ngadat, padahal sudah dicharge semalaman. Batre2 cadangan yang ada dipinjam & tetap saja gear2nya ngadat. Akhirnya kita sodori M47 supaya dia tetap bisa join. Apa yang terjadi? Dia masukkan M4A1nya ke dalam gunbag & dia kemasi semua barangnya, lalu pulang. Wah, wah, wah L Itu dia lakukan setelah menunggu di meeting point selama 1 jam, lalu berjalan selama 25 menit dari basecamp dengan motor melewati jalan menanjak yang batu2nya runcing (gara2 ini seorang kawan sempat harus mengganti sepasang velg Tigernya beserta ban-bannya—yang tidak murah), ditambah lumpur2 karena semalam hujan lebat, dan kawan saya itu nekat pulang karena satu hal….baterai sialan itu.

Kalo saya nggak mau menggantungkan hidup saya pada sebuah baterai.

Bagaimana dengan Anda?

Hatur nuhun,

Danar A

~ by mualaf2002 on December 15, 2007.

3 Responses to “To Spring is Choice.”

  1. Hehehe….nggak nyangka tulisan saya di milis diupload kesini. Padahal nulisnya ngawur:P

    Oke…sukses selalu buat COMSHAD.

    tribute to Spring Lovers

  2. Hidup Spring…

    Merdeka atau Spring….

    Ayo Melu TKNAS III SAG-ID

  3. Toko Air Soft Gun di Yogya di mana ya Bro..
    info in doonk..
    trims..
    GBU

Leave a Reply